Diperlukan memperluas konsep ‘Tanah Tumpah Darahku’

Diperlukan memperluas konsep ‘Tanah Tumpah Darahku’

Diperlukan memperluas konsep ‘Tanah Tumpah Darahku’

Diperlukan memperluas konsep ‘Tanah Tumpah Darahku’

Selama ini, selalu saja banyak pihak yang menuduh intelektual kita yang bermukim ke luar negeri sebagai penghianat. Dengan alasan apapun, mereka adalah penghianat. Titik.

Pihak yang menuduh tersebut hanya memberikan dua opsi, kembali ke tanah air, atau selamanya di luar negeri menjadi penghianat.

Bagi kacamata ini, nasionalisme hanya dinyatakan pada paspor apa yang kita miliki, atau kita menjadi residen dimana, bukan pada kontribusi nyata intelektual tersebut pada pembangunan bangsa.

Sementara itu, kalangan ini tidak pernah menyebut mereka yang KKN, atau kriminal yang menghuni penjara sebagai penghianat bangsa, namun hanya sebagai sekelompok orang yang ‘khilaf’, ‘perlu direedukasi’, atau ‘berilah kesempatan mereka untuk bertobat’, dan berbagai eufimisme lainnya.

Ironis, orang yang tidak pernah berbuat kriminal dituduh sebagai penghianat bangsa, sementara yang berbuat kriminal malah cenderung dimaafkan. Tenaga ahli kita yang tinggal di LN tersebut, tidak pernah melanggar hukum apapun.

Kepergian mereka meninggalkan Indonesia

Kepergian mereka meninggalkan Indonesia adalah legal dan menggunakan dokumen yang sah. Sementara mereka yang terbukti KKN tersebut jelas melanggar hukum.

Mengapa mereka harus dituduh penghianat? Itu adalah tuduhan yang sangat serius, dan biasanya diberikan pada teroris, mata-mata, atau pihak lain yang sengaja melakukan sabotase pada negara. Mereka tidak pernah melakukan sabotase apapun kepada kita.

Yang patut kami sayangkan dari sikap seperti ini, sebenarnya menuduh orang yang menjadi residen di luar negeri sebagai penghianat sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Justru tuduh menuduh itu hanya memperumit masalah, dan menyebabkan mereka yang tinggal di LN itu semakin antipati dengan Indonesia. Dalam konteks ini, ada baiknya kita belajar dari Israel dan RRC.

Mereka tidak pernah menuduh warga mereka yang tinggal di LN sebagai penghianat

Namun, mereka justru aktif melobi mereka, supaya membangun negara asalnya, dan membela tanah leluhurnya di dunia internasional. Sejauh ini lobi tersebut berhasil.

Mengapa tidak Indonesia mengadopsi cara tersebut? Mengapa tidak tenaga ahli dan ilmuwan kita yang tinggal di LN, kita lobi untuk membangun bangsa kita? Kehadiran fisik mereka di Indonesia, bukan sesuatu yang mutlak.

Yang paling penting

Yang paling penting adalah, kita bisa melobi mereka untuk memperkuat jaringan riset kita di dunia internasional (bagi peneliti), dan membantu pembangunan ekonomi kita (bagi investor).

Dalam hal ini, kita perlu memperluas konsep ‘tanah tumpah darahku’, supaya konsep nasionalisme tidak sekedar dibatasi oleh wilayah tertentu saja. Namun juga diperluas kemanapun sang WNI itu berada.

Sumber : https://pendidikan.co.id/