Hanya selang dua hari

Hanya selang dua hari

Hanya selang dua hari

Hanya selang dua hari

Hanya selang dua hari, Andine kembali membawa langkah tergesanya. Bedanya, langkah tergesanya kali ini, tidak disaksikan oleh teman-teman sekolahnya. Tak ada yang menunggu senyumnya yang kali ini kaku lagi. Pelajaran sedang berlangsung, saat kepala sekolah datang menemuinya di kelas dan memintanya segera pulang.
Apa kesalahan Andine pagi ini? Itu yang ada di benak teman kelasnya saat Andine disuruh pulang.

“Andine tidak punya salah. Bapak baru saja terima telepon di kantor, mama Andine meninggal!” jelas kepala sekolah setelah kepergian Andine.
Andine sendiri diberitahukan berita itu setelah diajak masuk kantor. Seperti papa Nia, mama Andine pun tak membawa firasat apa-apa sebelum kematiannya. Awalnya dia tak percaya, tapi HP-nya yang di-on-kan setelahoff karena sedang belajar, berdering dan suara papanya yang serak memperdengarkan sendiri berita duka itu.

Sepanjang perjalanan pulang, dia masih bisa menyatukan, merekatkan bangunan-bangunan ketegarannya yang mendekati roboh. Tapi setelah tiba di rumah, dan mendapatkan mamanya terbujur kaku, Andine goyah. Menangis, teriak, histeris!
“Berat mata memandang, tak seberat bahu memikul,” kata peribahasa.
Ya, kemarin Andine sedih melihat Nia dengan kematian papanya, dan meminta Nia untuk tersenyum. Tapi setelah bahunya sendiri yang memikul beban berat itu, dia tak bisa apa-apa!

Dia tak bisa membayangkan bagaimana suasana rumah tanpa mamanya. Bagaimana jika papanya kawin lagi? Di antara empat bersaudara, Andine yang sulung dan satu-satunya cewek. Itu berarti dia harus menggantikan posisi mamanya. Padahal selama ini, dia selalu terima beres dari mamanya. Untuk makan mi instan pun, mamanya yang turun tangan. Tangan kanan itu telah pergi. Andine terpukul!

Saat Nia datang menemuinya, dia tak kuasa menyembunyikan tangisnya. Sebenarnya dia merasa malu untuk menangis. Baru kemarin dia ceramah habis-habisan tapi setelah dirinya yang tertimpa musibah, dia lebih rapuh lagi.

Nia yang melihat kerapuhan itu, mencoba mendekat, memeluk tubuh Andine yang butuh penopang. Nia sebenarnya risih karena tak bisa memberi nasihat apalagi berperibahasa seperti halnya Andine. Tapi kebisuan Nia telah mengingatkan Andine pada seluruh nasihat yang pernah dituturkannya.

Tapi nasihat itu seolah tak bisa diberlakukan untuk dirinya. Dia menangis. Lebih dari tangis Nia kemarin. Terkadang, bahkan selalu, seseorang dapat menasihati orang lain tapi susah menasihati diri sendiri. Saat ini Andine sangat butuh nasihat dari orang lain, bukan dari dirinya, tapi tak satu pun yang bisa memberinya nasihat. Nia beranggapan, apa yang mendera Andine adalah luka sesaat, hanya butuh istirahat. Apalagi dia kenal Andine, kuat, tegar, kokoh, padahal karang pun suatu saat akan hancur karena badai.
Bukan hanya Nia, teman-teman sekolah Andine yang datang, tak banyak yang bisa menuturkan nasihat ataupun memberi semangat.

“Aku yakin kamu tegar!”

“Aku tahu kamu bisa melalui semua ini.”

“Kamu nggak sampai terhempas, kan?”

“Aku tunggu senyummu besok!”

Rupanya mengeluh itu perlu, agar saat merasa kalah, orang lain mau memberi semangat. Selama ini Andine tak hanya dikenal lewat senyum dan nasihatnya, tapi juga dari sosoknya yang tak pernah mengeluh. Dia selalu merasa bisa mengatasi permasalahannya sendiri, tanpa butuh bantuan meskipun itu hanya berupa semangat. Tanpa disadarinya, orang sombong bukan hanya yang tak mau mengalah, tapi juga yang tak pernah mengeluh. Dia kalah kini. Terkapar. Tak ada yang melihatnya menggelepar. Semua menganggapnya tegar.

Baca Juga :

1