Sejarah Idul Adha dan Haji

Sejarah Idul Adha dan Haji

Sejarah Idul Adha dan Haji

Sejarah Idul Adha dan Haji

Sejarah Idul Adha

Idul adha merupakan hari raya umat islam yang juga disebut Idul qurban atau lebaran haji. Dimana ummat islam khususnya melakukan ritual haji dan pemotongan hewan qurban.

Idul qurban jatuh 70 hari setelah hari raya idul fitri yaitu tepat pada tanggal 10 Dzulhijah.Yang dimana hari raya idul qurban juga merupakan hari tasyrik yaitu diharamkannya ummat islam untuk berpuasa.

Karena pada hari tersebut juga merupakan puncak dari ritual haji dimana dahulu nabi Muhammad SAW pada bulan Dzulhijah tanggal 10 beliau melakukan ritual melempar jumrah ‘aqobah yaitu melempar batu ke tiang batu yang berjumlah 3. Tiang tersebut dalam islam dilambangkan sebagai sosok iblis.

Juga merupakan ritual lainnya yang dilaksanakan Rosulullah SAW pada saat tanggal tersebut yaitu menyembelih hadyu, mencukur rambut kepala, dan juga melaksanakan thowaf ifadhoh.

Sejarah Idul Adha

Membahas tentang sejarah Idul adha tidak terlepas dari tokoh-tokoh yang sangat penting dalam pandangan islam yaitu Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As. Keduanya merupakan ayah dan anak yang memiliki tingkat kepatuhan dan ketoatan yang luar bisa terhadap Allah SWT.

Nabi Ibrahim memiliki gelar Khalilullah yaitu kesayangan allah, yang terkenal dengan puteranya yaitu Nabi Ismail sebagai pendiri Baitullah. Beliau termasuk ulul azmi yaitu nabi yang memiliki tingkat ketabahan yang luar biasa kepada Allah. Sebagai nabi yang diutus oleh Allah kepada kaum Khaldan yang berada di negeri Ur.

Nama beliau disebut di Al qur’an disebut sebanyak 69 kali dan juga diabadikan namanya dalam salah satu surrah di Al qur’an. Sejarah Idul adha dan haji merupakan wujud peringatan perayaan kisah pengabadian, berbaktinya Nabi Ibrahim dan Ismail kepada Allah SWT.

Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Nabi Ismail

Dahulu kala Nabi Ibrahim AS memberikan kurbannya kepada Allah SWT yaitu 1000 ekor kambing, 300 ekor lembu dan 100 ekor onta. Para malaikat dan orang-orang merasa kagum atas semua kurban dari nabi Ibrahim AS.

Kemudian Nabi ibrahim berkata: “Semuanya yang telah aku kurbankan tidak ada apa-apanya bagiku, demi allah seandainya aku memiliki seorang anak laki-laki, tentu aku bersedia menyembelihnya demi kepentingan fisabilillah (di jalan Allah) dan akan aku kurbankan untuk Allah SWT.

Nabi Ibrahim sangat mengidam-ngidamkan memiliki seorang putera, Sarah yang merupakan isteri beliau mengetahui akan hal itu sedangkan dirinya mandul. Kemudian Sarah memberikan budaknya kepada wanitanya kepada Nabi Ibrahim agar beliau memiliki keturunan yang di idam-idamkan.

Waktu berjalan begitu saja hingga akhirnya Nabi Ibrahim As pun lupa akan janjinya tersebut kepada Allah SWT. Beliau kemudian datang ke tanah suci (ardhul muqaddasah) setelah itu beliau berdoa kepada Allah agar Allah mengaruniakan seorang anak kepadanya.

Kemudian allah pun mengabulkan doa beliau sembari memberikan kabar gembira yaitu akan terlahirnya putera beliau. Kemudian Siti hajar hamil dan melahirkan seorang putera yang diberi nama Ismail.

Artikel terkait :